DOA RABITHAH


Ya Allah Engkau mengetahui bahawa..
hati-hati ini telah berkumpul kerana mengasihi Mu
Bertemu untuk mematuhi perintah Mu
Bersatu memikul beban dakwah Mu
Hati-hati ini telah mengikat janji setia..
untuk mendaulat dan menyokong syariatMu
Maka eratkan lah ya Allah akan ikatannya
Kekalkan kemesraan antara hati-hati ini
Tunjukkanlah kepada hati-hati ini..
akan jalannya yang sebenar
Penuhkanlah piala hati ini..
dengan limpahan iman, keyakinan dan keindahan tawakkal kepada Mu
Hidup suburkanlah hati-hati ini..
dengan makrifat, pengetahuan sebenar tentangMu
Jika Engkau mentakdirkan mati
Maka matikanlah pemilik hati-hati ini..
sebagai para syuhada' dlm perjuangan agama Mu
Engkau lah sebaik-baik sandaran..
dan sebaik-baik penolong ya Allah
Perkenankanlah permintaan ini
Amin ya rabbal A'alamin..


20 PERKARA MUHASABAH DIRI



1.  Beristighfar/bertasbih setiap hari
2.  Berzikir mengingati Allah
3.  Sembahyang 5 waktu
4.  Berpuasa sunat
5.  Mengerjakan solat-solat sunat
6.  Berselawat kepada Rasulullah
7.  Bersyukur di atas nikmat Allah
8.  Bertawakkal/berserah kepada Allah dalam setiap urusan
9.  Memaafkan kesalahan orang lain
10. Menghubung silaturrahim
11. Memberi nasihat yang baik kepada manusia
12. Mendengar peringatan tentang agama yang baik untuk diri
13. Menziarahi orang sakit/miskin
14. Menziarahi kubur untuk mengambil iktibar
15. Bersedekah/menafkah harta pada jalan yang benar
16. Mencegah kemungkaran bila melihatnya
17. Sentiasa berfikir dan bertindak kearah kebaikan
18. Sentiasa mengingati maut yang anda pasti menemuinya
19. Menyebarkan salam dan menebarkan kasih sayang kepada semua manusia
20. Seorang yang sabar dan redha dengan ketetapan Allah 

AIR MATA RASULULLAH S.A.W

Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut Ada sebuah kisah 
tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui 
kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, 
burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan 
suara terbatas memberikan kutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam 
kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
 
Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian,Al 
Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku 
dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." 
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang 
dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
 
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun
menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan 
kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
 
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala 
itu.Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap 
Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat 
itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan 
detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih 
tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya 
yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
 
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan 
menutup pintu.Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
 
"Siapakah itu wahai anakku?"
 
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur 
Fatimah lembut.
 
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. 
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
 
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia.Dialah malakul maut," kata Rasulullah,
 
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, 
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. 
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit 
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
 
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah.
 
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua 
syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
 
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
 
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
 
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman 
kepadaku:'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di 
dalamnya," kata Jibril.
 
Detik-detik semakin  dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik.Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, 
urat-urat lehernya menegang.
 
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.Fatimah
terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
 
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya
Rasulullah pada Malaikat  pengantar wahyu itu.
 
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
 
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut inikepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
 
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum,peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
 
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
 
Amin....

DIA ZAHRATIE ( BUNGAKU )



Zahratie,
Senyumnya menghias tabir waktu,
Walau perit,
Walau sakit,
Lakar bibirnya tetap terukir,
Pandangan matanya tetap bersinar,
Walau sembilu terpalit di lubuk hati.

Zahratie,
Hadirnya terpancar sebuah coretan,
Datangnya terbeban berbagai kisah,
Dari ceritera derita,
Dia bertarung melawan resah,
Dari lembaran gundah,
Dia bangkit melawan arah,
Dia kemboja,
Yang patahnya berganti lara.

Zahratie,
Bunga desa yang kecil ilmu,
Di dadanya terperam ribuan tanda tanya,
Dia seringkali diterjah,
Dengan bicara berunsur hina,
Kata bersalut sindiran duka,
Bingkisan bersadur hiba.

Zahratie,
Merah pipinya mendatang fitnah,
Lantaran salah mengerti makna,
Khilaf tidak bertanya,
Sedang dia menahan derita,
Antara kurniaan yang harus dijaga,
Umpama Humaira’,
Anugerah yang ada,
Disyukuri jua.

Zahratie,
Hatinya haus mencari kasih,
Dari Allah yang mencipta segala,
Namun manusia,
Silap dalam memberi erti,
Dia terluka buat kesekian kali,
Antara menjaga hati,.
Dan juga menjaga diri.

Zahratie,
Kini airmata jadi teman duka,
Di sisinya,
Allah sentiasa ada,
Dia masih mengharap,
Suatu masa,
Dikurniakan seorang insan,
Yang mampu membimbing hati,
Untuk menjadi lebih kuat,
Berjuang berdakwah,
Demi Islam tercinta,
Walau dipelukannya,
Ilmu masih kecil,
Dengan harapan,
Ia mampu dikongsi.

Zahratie,
Kini dia masih terkulai layu,
Mencari ribuan kekuatan,
Yang akan mendamping jiwa sasa,
Takkan pernah hanyut,
Walau sesekali tersasar,
Dia berkali bangkit,
Walau bahangnya terasa perit.

Salam Juang Dari Zahratie...


Nukilan : Zahratie
1025
13042010

SEDETIK JUANG

Ya Allah,
Bantulah aku menghadapi dunia yang penuh pancaroba,
Bantulah aku menghadapi siksa jiwa,
Yang dicipta oleh bibir-bibir durjana,
Kau bantulah aku,
Menyulam benih kesabaran,
Kau bantulah aku,
Menitip tutur kepastian,
Agar tidak aku terguris segala perasaan,
Yang kurasakan ibarat duri dalam sekam.


Ya Allah,
Semakin kurang umurku meniti usia,
Tidak pernah pasti,
Banyak mana yang aku perjuangkan untuk Islam,
Terasa kerdil,
Malu dengan  usaha yang tidak pernah matang,
Sedang hidup kata pergi,
Sakaratulmaut kata mari,
Aku,
Insan di sekelilingku,
Belum pernah menyedari,
Bahawa dunia ini akan mati.


Ya Allah,
Kau lansungkan kekuatan dalam diriku,
Suluhkan aku jalan juang,
Kembalikan aku ke pangkal jalan,
Biar aku genggam obor yang menyala,
Walau tangan terbakar dititis luka,
Mana mungkin aku hanya bisa memandang,
Dunia yang dulu riang kini hilang ditelan zaman.


Ya Allah,
Dengan kudrat yang sekerat,
Jiwa yang terhambat,
Disulami rindu pada-Mu,
Aku mohon,
Lahirkan di kalbuku,
Satu titik keberanian yang jitu,
Untuk aku turun berjihad,
Dengan penuh semangat,
Kefahaman yang tetap,
Untuk Islam yang terhebat.


Ya Allah,
Hanya pada-Mu kami memohon segalanya,
Yang biasa atau yang luar biasa,
Yang kecil atau yang besar,
Yang perlu atau tidak perlu,
Justeru,
Kau perhebatkanlah barisan kami,
Yang tidak akan pernah tumbang,
Untuk-Mu,
Agama-Mu,
Kekasih-Mu,
Dan ummah seluruhnya.




Nukilan : Zahratie
1835
10042010

SEGARIS NADA RINDU

Pernahkah ada di antara kamu,
Yang dari kecilnya,
Puas sudah menghirup,
Butir-butir perit hitam,
Yang mengukir ribuan duka,
Menelan berbagai butiran sengsara,
Juga menanggung bebanan azam derita.

Pernahkah di antara kamu,
Yang dari muda umurnya,
Terbiar tanpa arah,
Gundah tanpa amanah,
Dibuang sisi,
Terluka tak terubati.

Pernahkah di antara kamu,
Yang dari kuntum kelompaknya,
Gugur tak pernah berkembang,
Malah layu tak berbaja,
Hujan tak menyapa,
Mentari tak pernah sirna.

Aku PERNAH!

Meniti aku usia remaja,
Bercambah aku dengan sehiris doa,
Mencari,
Berlari,
Dari gelombang kejahilan,
Yang benar-benar membuatku punah dalam cerah.

Meniti aku usia yang makin tua,
Dengan pencarian yang takkan pernah usai,
Pengorbanan yang takkan pernah lerai,
Kesakitan yang semakin tersemai,
Tangisan,
Cacian,
Seakan sebati menjadi teman,
Yang mendampingiku,
Mengalir sebak saban malam.

Terluah aku suatu bicara,
Yang mencalit rasa di jiwa,
Seorang insan,
Hadir menghulur genggaman,
Memberi ikhlas,
Menghias belas,
Pada aku,
Insan yang tidak punya apa-apa.

Kalimah-Mu Ya Allah,
Akhirnya kutemui,
Setelah sekian lama mencari,
Penat tergapai-gapai sendiri,
Sekelumit kasih,
Menerpa dinding hati,
Engkaulah Kekasih Sejati,
Yang abadi,
Takkan pernah hilang,
Walau dunia sekalipun terkorban.

Ya Allah,
Saban waktu aku rindu pada Rasulullah,
Rindu pada kemanisan iman,
Rindu pada kedamaian,
Pada ihsan,
Islam yang menjadi pegangan.

Ya Allah,
Berikan aku kekuatan,
Untuk melawan arus kehidupan,
Yang penuh dengan dugaan,
Cubaan,
Tekanan,
Leka,
Nista,
Tipu daya,
Dan segalanya yang alpa.

Ya Allah,
Bantulah aku dalam gelita,
Juga terang yang berpura-pura,
Jangan Kau sesatkan aku,
Setelah hidayah yang dianugerahkan,
Agar aku bisa menilai,
Antara manikam dan juga k`aca,
Yang pastinya mengundang,
Makna yang amat berbeda.



NUKILAN : ZAHRATIE
08.04.2010
0140 AM